Minggu, 22 Juni 2014

tugas 4



diana putri
D4

Warga RTLH Harapkan Bantuan Pemerintah

TANJUNGPINANG (DP) – Menyusuri jalan setapak melewati deretan rumah yang berjejer dengan berdinding kayu membuat orang yang melewati merasa iba akan keadaan Rumah Tidak Layak Huni (RLTH) yang berada di Jalan Sultan Mahmud, gang Belutas Rt 5 Rw 6 Tanjung unggat, Tanjungpinang. Senin (9/6).
Bapak Muhamad Salim (70) adalah salah satu warga Tanjung unggat sudah 18 tahun menempati rumah yang hanya beralaskan dan dilindungi dengan papan kayu, juga didirikan dengan bongkahan kayu untuk menahan rumah. Salim  mempunyai satu orang istri yang bernama Rosiah (60), dan tiga orang anak. Dalam satu rumah ada tiga keluarga yang dihuni oleh delapan orang dan hanya memiliki dua kamar.  Sehari-harinya Bapak Salim hanya bekerja sebagai tukang jahit, itupun penghasilannya tidak menentu. “ sehari kadang mendapatkan Rp. 10.000, kadang tidak mendapatkan sama sekali, ” ungkap Bapak Salim. Bapak Salim mengisahkan, dari dulu hingga sekarang belum ada tindakan dari pemerintah untuk merehab rumahnya. Menurutnya, pernah ada yang datang tetapi hanya untuk melihat keadaan isi rumah. “ Jika hujan datang rumah kami bocor, apalagi kalau air sedang pasang, kadang bisa naik airnya sampai ke isi rumah. Sama halnya dengan Sapartinadi (32) anak dari Bapak Salim yang hanya bekerja sebagai nelayan, penghasilan yang dia dapat sekitar Rp. 70.000 per hari. “ kalo nggak bekerja ya kami juga ga bisa makan kak, ’’ kata Sapartinadi sambil tersenyum malu. Bapak Salim dan keluarga berharap ada pemerintah yang peduli akan keadaan rumahnya.
Berbeda dengan Ibu Simomora (60), rumah yang juga hanya dibuat dengan kayu sudah 20 tahun menempati rumah tersebut. “ waktu suami saya masih ada, saya pernah minta ke suami untuk mengajukan tentang rumah ini, tetapi suami hanya bilang sabar saja dulu,’’ Ibu Simomora mengisahkan. Rumah yang hanya dihuni dua orang, yaitu dia dan cucunya selalu mendapatkan beras raskin setiap bulannya, 15 kg. Dari dulu hingga sekarang Ibu Simomora hanya mengharapkan atapnya saja yang diperbaiki, “ susah kalau hujan, bocor kak, ’’ ungkapnya. Ibu Simomora sehari-harinya hanya bekerja sebagai pengupas bilis yang pendapatannya tidak menentu. Dia mengharapkan agar pemerintah cepat menangani rumahnya, karena dari dulu rumah yang dia huni belum pernah ada perbaikan hingga sekarang.
Sementara Bapak Zulzidarni (42) ketua Rt 05/06 kelurahan Tanjung unggat. Dia mengatakan setiap tahun ada empat unit rumah yang layak untuk direhab. Menurutnya rumah yang harus direhab adalah rumah yang memang benar-benar sudah tidak layak dihuni lagi. “ Tercatat ada empat rumah yang diajukan untuk mendapatkan bantuan rehabilitasi. Selain itu juga untuk bantuan rumah tak layak huni ada beberapa keriteria, yaitu kondisi rumahnya, berapa penghasilannya berapa, dan berapa penghuninya.” Ungkapnya. Jika ada tanah sewaan tetapi rumah pribadi dan ingin mendapatkan rehab dari pemerintah harus meminta izin dari pihak yang mempunyai tanah tersebut. “ Kadang-kadang warga sini salah menanggapi, pemerintah bermaksud untuk merehab tetapi malah berasumsi untuk merenovasi rumah, ’’ tambahnya.
Dari Dinas Sosial, setelah mendapatkan informasi dari Ibu supini sebagai Kepala Bidang Pemberdayaan dan Rehabilitasi mengatakan, untuk tahun sekarang mendapatkan anggaran sebesar Rp. 17 jt untuk setiap rumah se-kota Tanjungpinang. Untuk tahun 2014 terdapat 388 rumah yang akan direhab. Menurut Ibu Supini jika ingin rumahnya ingin direhab harus memenuhi syarat-syarat yang ada, yaitu adanya bukti rumah yang tidak layak dihuni.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar