Minggu, 22 Juni 2014

tugas 5



Diana Putri
D4

LPG 3 kg Masih Bisa didapat

TANJUNGPINANG (DP) – Menjelang Ramadhan Gas LPG 3 kg di Jalan Gatot Subroto Km 5 Tanjungpinang masih stabil. Selasa (10/6).
Yudi (32) salah satu agen mengatakan hingga saat ini masih aman-aman saja. Stok selalu ada . “ Kami cukup kalau untuk mendistribusikan yang 3 kg, kalau untuk ke masyarakat itu masih aman-aman saja, tetapi untuk ke kedai itu belum aman,’’ ungkapnya. Menurut Yudi, sampai saat ini belum ada aturan khusus. “ Kami hanya mengawasi saja, tetapi tidak berani untuk menindaklanjuti karena yang berhak itu dari pihak pertamina. Tapi sayangnya sampai saat ini belum ada tindakan khusus dari pihak pertamina,’’ ungkapnya lagi. Harga LPG 3 kg masih tetap sama, yakni Rp. 16.000 untuk dijual ke masyarakat. Sedangkan untuk LPG 12 kg adalah Rp. 141.000.
Ratih (26) mengaku sebagai ibu rumah tangga merasa kewalahan jika membeli LPG 12 kg. “ Tak sanggup kami kalau beli itu, yang kecil aja masih mikir-mikir untuk beli apalagi yang besar,’’ jelas Ratih. Menurut Ratih, sangat sulit jika LPG 3 kg kosong terus. Tapi hingga saat ini menurutnya LPG 3 kg masih ada dan mudah untuk ditemui. “ ya mudah-mudahan saja puasa nanti gas nggak langka,’’ tutup Ratih.
Sementara dari Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi dan UMKM kota Tanjungpinang menyatakan adanya kelangkaan LPG 3 kg karena naiknya harga LPG 12 kg. Hal ini menyebabkan masyarakat lebih mempercayakan untuk memakai LPG 3 kg. awal-awal Januari tepatnya pada tanggal (6/1) orang dinas Perindustrian pernah turun kelapangan untuk memantau ke kedai-kedai untuk menyikapi kondisi LPG 3 kg. Berdasarkan pantauan yang sudah dilakukan LPG 3 kg masih mencukupi. Pihak dari dinas menyarankan agar agen tepat waktu untuk mengirim LPG 3 kg, selain itu pertamina harus menindaklanjuti kesepakatan kapan pengembalian semula LO yang sudah dikurangi kepada agen.



tugas 4



diana putri
D4

Warga RTLH Harapkan Bantuan Pemerintah

TANJUNGPINANG (DP) – Menyusuri jalan setapak melewati deretan rumah yang berjejer dengan berdinding kayu membuat orang yang melewati merasa iba akan keadaan Rumah Tidak Layak Huni (RLTH) yang berada di Jalan Sultan Mahmud, gang Belutas Rt 5 Rw 6 Tanjung unggat, Tanjungpinang. Senin (9/6).
Bapak Muhamad Salim (70) adalah salah satu warga Tanjung unggat sudah 18 tahun menempati rumah yang hanya beralaskan dan dilindungi dengan papan kayu, juga didirikan dengan bongkahan kayu untuk menahan rumah. Salim  mempunyai satu orang istri yang bernama Rosiah (60), dan tiga orang anak. Dalam satu rumah ada tiga keluarga yang dihuni oleh delapan orang dan hanya memiliki dua kamar.  Sehari-harinya Bapak Salim hanya bekerja sebagai tukang jahit, itupun penghasilannya tidak menentu. “ sehari kadang mendapatkan Rp. 10.000, kadang tidak mendapatkan sama sekali, ” ungkap Bapak Salim. Bapak Salim mengisahkan, dari dulu hingga sekarang belum ada tindakan dari pemerintah untuk merehab rumahnya. Menurutnya, pernah ada yang datang tetapi hanya untuk melihat keadaan isi rumah. “ Jika hujan datang rumah kami bocor, apalagi kalau air sedang pasang, kadang bisa naik airnya sampai ke isi rumah. Sama halnya dengan Sapartinadi (32) anak dari Bapak Salim yang hanya bekerja sebagai nelayan, penghasilan yang dia dapat sekitar Rp. 70.000 per hari. “ kalo nggak bekerja ya kami juga ga bisa makan kak, ’’ kata Sapartinadi sambil tersenyum malu. Bapak Salim dan keluarga berharap ada pemerintah yang peduli akan keadaan rumahnya.
Berbeda dengan Ibu Simomora (60), rumah yang juga hanya dibuat dengan kayu sudah 20 tahun menempati rumah tersebut. “ waktu suami saya masih ada, saya pernah minta ke suami untuk mengajukan tentang rumah ini, tetapi suami hanya bilang sabar saja dulu,’’ Ibu Simomora mengisahkan. Rumah yang hanya dihuni dua orang, yaitu dia dan cucunya selalu mendapatkan beras raskin setiap bulannya, 15 kg. Dari dulu hingga sekarang Ibu Simomora hanya mengharapkan atapnya saja yang diperbaiki, “ susah kalau hujan, bocor kak, ’’ ungkapnya. Ibu Simomora sehari-harinya hanya bekerja sebagai pengupas bilis yang pendapatannya tidak menentu. Dia mengharapkan agar pemerintah cepat menangani rumahnya, karena dari dulu rumah yang dia huni belum pernah ada perbaikan hingga sekarang.
Sementara Bapak Zulzidarni (42) ketua Rt 05/06 kelurahan Tanjung unggat. Dia mengatakan setiap tahun ada empat unit rumah yang layak untuk direhab. Menurutnya rumah yang harus direhab adalah rumah yang memang benar-benar sudah tidak layak dihuni lagi. “ Tercatat ada empat rumah yang diajukan untuk mendapatkan bantuan rehabilitasi. Selain itu juga untuk bantuan rumah tak layak huni ada beberapa keriteria, yaitu kondisi rumahnya, berapa penghasilannya berapa, dan berapa penghuninya.” Ungkapnya. Jika ada tanah sewaan tetapi rumah pribadi dan ingin mendapatkan rehab dari pemerintah harus meminta izin dari pihak yang mempunyai tanah tersebut. “ Kadang-kadang warga sini salah menanggapi, pemerintah bermaksud untuk merehab tetapi malah berasumsi untuk merenovasi rumah, ’’ tambahnya.
Dari Dinas Sosial, setelah mendapatkan informasi dari Ibu supini sebagai Kepala Bidang Pemberdayaan dan Rehabilitasi mengatakan, untuk tahun sekarang mendapatkan anggaran sebesar Rp. 17 jt untuk setiap rumah se-kota Tanjungpinang. Untuk tahun 2014 terdapat 388 rumah yang akan direhab. Menurut Ibu Supini jika ingin rumahnya ingin direhab harus memenuhi syarat-syarat yang ada, yaitu adanya bukti rumah yang tidak layak dihuni.









Tanjungpinang (DP) – Kondisi jalan rusak yang mengakibatkan kemacetan di jalan Komplek Ruko Bintan Centre Tanjungpinang, Sabtu (07/06) sudah lama terjadi. Jalanan yang berlubang dan dipenuhi oleh genangan air ini sangat mengganggu jalannya kendaraan. Hampir disisi kiri dan kanan jalan penuhi lubang yang besar dan cukup dalam. Semua kendaraan yang melewati jalan ini harus berusaha menghindari lubang-lubang tersebut.
Kemacetan terparah terjadi waktu pagi hari saat semua masyarakat mulai sibuk menjalankan aktivitasnya. Padahal kondisi jalanan yang rusak sudah terjadi sejak lama, namun sampai saat ini belum ada perhatian khusus dari Pemerintah Kota Tanjungpinang. Menurut Putri (29) seorang warga Ganet Tanjungpinang timur  mengatakan jalanan rusak yang dilaluinya sering mengalami kesulitan, padahal banyaknya orang yang melewati jalan tersebut sebagai jalan pintas. “ Sudah lama jalannya rusak, tapi sampai sekarang nggak diperbaiki. Padahal saya sering lewat sini kalau mau ke pasar dan berangkat kerja,” Ujarnya. Dia juga menambahkan jika sedang musim hujan seperti saat ini jalan tersebut sangat parah, hampir tidak bisa dilalui karena banyaknya jalanan yang berlubang.
Kondisi jalan macet juga terjadi di jalan DI Panjaitan Km. 8 karena masih dalam proses pengerjaan Box Culvet dan peninggian jalan membuat satu lajur di jalan ini ditutup sementara. Padahal jalan yang dibuka hanya satu jalur sehingga mengakibatkan kemacetan. Pengendara sepeda motor yang nekat menghindari kemacetan ini pun mengambil jalan pintas dengan mengendarai sepeda motornya di  depan ruko dan melewati bawah baliho yang terpasang. Riko (25) salah satu mahasiswa UMRAH semester enam mengatakan sering melewati jalan pintas. “Iya, dari pada lewat jalan aspal macet, mending lewat situ saja,” ujar Riko.
Tidak hanya di situ saja, jalanan macet serupa juga terjadi di jalan Arif Rachman Hakim, depan  SMP N 6 Tanjungpinang. Pada bagian tengah jalan mulai rusak dan terdapat lubang memanjang. Kondisi jalan ini membuat kendaraan yang melintas harus menurunkan laju kendaraannya dan menghindari lubang tersebut. Kemacetan ini semakin parah pada waktu usai jam sekolah. Kondisi jalan yang rusak serta ramainya kendaraan yang menjemput anak sekolah melengkapi kemacetan tersebut.